Produksi Susu Garut Turun

Produksi Susu Garut Turun

Garut, Induk KUD – Pada kemarau 2012 ini, produksi susu sapi segar di Kabupaten Garut mengalami penurunan cukup besar mencapai sekitar 14.000 liter per hari.

Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Disnakkanla) Kabupaten Garut mencatat, sejak memasuki bulan ketiga musim kemarau tahun ini, produksi susu di empat koperasi penampung susu di Kabupaten Garut menurun menjadi sekitar 58.000 liter per hari. Padahal biasanya, produksi susu mencapai sebanyak 72.000 liter per hari.

Keempat koperasi tersebut yakni Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) Cikajang, Koperasi Unit Desa (KUD) Cisurupan, KUD Bayongbong, dan KUD Cilawu. Dalam keadaan normal, setiap harinya, KPGS Cikajang mampu memroduksi susu sebanyak 33.000 liter, KUD Cisurupan sebanyak 14.000 liter, KUD Bayongbong 20.000, dan KUD Cilawu 5.000 liter.

Namun pada musim kemarau, produksi susu KPGS Cikajang menurun menjadi sekitar 30.000 liter, KUD Cisurupan 8.000 liter, KUD Bayongbong 20.000 liter, dan KUD Cilawu 2.000 liter. Jumlah populasi sapi perah di Kabupaten Garut saat ini tercatat sebanyak 26.000 ekor tersebar di sejumlah tempat.

Menurut Kepala Bidang Bina Usaha pada Disnakkanla Kabupaten Garut, Dida Kardiana Endang, penurunan produksi susu di Kabupaten Garut pada musim kemarau bukan hanya akibat sulitnya peternak mendapatkan pakan hijau berupa rerumputan. Melainkan juga intensitas terik matahari, serta tak adanya kelembaban.

“Sapi perah itu berkembang baik di daerah dingin. Nah, tak adanya kelembaban jelas memengaruhi struktur organ sapi,” ujar Dida, Mingguy (14/10/2012).

Dida menyebutkan, mahalnya harga konsentrat untuk pakan sapi serta harga jual susu yang rendah turut mendorong para petani ternak sapi tak begitu bergairah mengurus sapinya secara maksimal.

Harga jual produksi susu dari petani/KUD ke Industri Pengolahan Susu (IPS) saat ini berkisar Rp3.400 per liter. Sedangkan harga konsentrat Rp1.700-Rp1.800 per kilogram.

“Peternak saat ini masih banyak mencampurkan jerami pada ransum hijauannya, apalagi musim kemarau. Padahal jerami itu seratnya tinggi dan kurang bagus bagi pertumbuhan sapi,” tegasnya,GARUT, Induk KUD – Pada kemarau 2012 ini, produksi susu sapi segar di Kabupaten Garut mengalami penurunan cukup besar mencapai sekitar 14.000 liter per hari.

Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Disnakkanla) Kabupaten Garut mencatat, sejak memasuki bulan ketiga musim kemarau tahun ini, produksi susu di empat koperasi penampung susu di Kabupaten Garut menurun menjadi sekitar 58.000 liter per hari. Padahal biasanya, produksi susu mencapai sebanyak 72.000 liter per hari.

Keempat koperasi tersebut yakni Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) Cikajang, Koperasi Unit Desa (KUD) Cisurupan, KUD Bayongbong, dan KUD Cilawu. Dalam keadaan normal, setiap harinya, KPGS Cikajang mampu memroduksi susu sebanyak 33.000 liter, KUD Cisurupan sebanyak 14.000 liter, KUD Bayongbong 20.000, dan KUD Cilawu 5.000 liter.

Namun pada musim kemarau, produksi susu KPGS Cikajang menurun menjadi sekitar 30.000 liter, KUD Cisurupan 8.000 liter, KUD Bayongbong 20.000 liter, dan KUD Cilawu 2.000 liter. Jumlah populasi sapi perah di Kabupaten Garut saat ini tercatat sebanyak 26.000 ekor tersebar di sejumlah tempat.

Menurut Kepala Bidang Bina Usaha pada Disnakkanla Kabupaten Garut, Dida Kardiana Endang, penurunan produksi susu di Kabupaten Garut pada musim kemarau bukan hanya akibat sulitnya peternak mendapatkan pakan hijau berupa rerumputan. Melainkan juga intensitas terik matahari, serta tak adanya kelembaban.

“Sapi perah itu berkembang baik di daerah dingin. Nah, tak adanya kelembaban jelas memengaruhi struktur organ sapi,” ujar Dida, Mingguy (14/10/2012).

Dida menyebutkan, mahalnya harga konsentrat untuk pakan sapi serta harga jual susu yang rendah turut mendorong para petani ternak sapi tak begitu bergairah mengurus sapinya secara maksimal.

Harga jual produksi susu dari petani/KUD ke Industri Pengolahan Susu (IPS) saat ini berkisar Rp3.400 per liter. Sedangkan harga konsentrat Rp1.700-Rp1.800 per kilogram.

“Peternak saat ini masih banyak mencampurkan jerami pada ransum hijauannya, apalagi musim kemarau. Padahal jerami itu seratnya tinggi dan kurang bagus bagi pertumbuhan sapi,” tegasnya,

Sumber

Share

admin